KOMPILASI KEGIATAN BPTPH PROVINSI JAWA BARAT

Informasinya para POPT dan alumni SLPHT Semoga kehadiran kami memberi manfaat dan mampu mensejahterakan petani di Jawa Barat----BPTPH JAWA BARAT -Saran masukan anda kami harapkan
Kumpulan kegiatan kami

2011-01-09

Kegiatan Seminar perlidungan Tanaman Pangan dalam rangka MPTHI di Mataram

Kegiatan seminar MPTHI di Mataram di ikuti oleh peserta perkebunan, karantina, pertanian tanaman pangan bersal dari berbagai propinsi di Indonesia. Pelasanaan seminar dari tanggal 18 samapi 21 Oktober 2010 di hotel lombok Raya Mataram NTB.
Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap OPT (Edhi Martono,Anggota Komisi Perlindungan ,tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada ) Pengaruh iklim terhadap bumi tidak mungkin dibatasi. Oleh karena itu apabia terjadi perubahan, pergeseran, kondisi iklim ekstrim, atau apa pun sebutannya yang berkaitan dengan iklim, pengaruhnya tentu tidak hanya terhadap sekelompok jasad saja. Dengan demikan menganggap meningkatnya serangan hama – penyakit akibat perubahan iklim tidak selalu benar. Iklim yang sama juga memperngaruhi pertanaman, juga lingkungan sekitar pertanaman, bahkan juga mempengaruhi manusia yang megelola tanaman. Memang benar bahwa jasad hidup sederhana seperti sebagian besar OPT memiliki ketergantungan tinggi terhadap iklim, karena OPT mengandalkan pada naluri dan kepekaan indera yang langsung diiikuti antisipasi, tidak mampu membuat rencana dan tidak bisa “menyusun strategi”. Antisipasi, atau lebih tepat “reaksi” OPT terhadap iklim yang tidak biasa sesungguhnya juga dapat diduga, dapat diprediksi. Prediksi ini—yang dilakukan oleh manusia—tepat atau tidaknya tergantung pada seberapa jauh manusia mengenal dan mengetahui sifat, watak, dan perilaku OPT pada umumnya.
Seperti telah disampaikan, dampak perubahan atau kondisi ekstrim iklim yang lebih dahulu harus diperhatikan adalah terhadap tanaman. Berbagai komponen iklim yang berubah, secara langsung berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Apabila kemudian pertanaman menunjukkan gejala tidak normal (pertumbuhan tidak sempurna, perkembangan terhambat, produksi menurun), maka yang pertama harus dicermati adalah pengaruh komponen iklim terhadap tanamannya. Memang benar bahwa iklim yang berubah juga menimbulkan dampak pada kehidupan (dan perilaku) OPT, tetapi pusat perhatian utama usaha budidaya adalah menjaga tanaman atau komoditasnya dalam kondisi terbaik (budidaya tanaman sehat). Secara naluriah petani sebagai pemilik modal usaha tani pasti memperhatikan komoditas yang diusahakannya. Oleh karena itu penanganan penyimpangan iklim dan cuaca dari keadaan normal terhadap tanaman tentu sudah dikenal metode dan tekniknya, seberapa empiriknya pun cara-cara yang dikembangkan tersebut. Petani yang memperhatikan benar usaha taninya, petani yang benar-benar berperan sebagai “manajer” usaha tani, niscaya telah menyadari hal ini, dan menyiapkan antisipasinya yang tepat.
Komponen iklim seperti jumlah curah hujan, banyaknya hari hujan, intensitas sinar matahari, goyangan suhu, tingkat kelembaban dan komponen lainnya pada akhirnya menyusun kondisi iklim mikro yang penting bagi pertumbuhan tanaman—dan juga tumbuhan lain di sekitar tanaman. Kenyataan ini kemudian perlu dikombinasikan dengan pengetahuan dan perhitungan tentang kondisi iklim, baik yang diperkirakan dari studi empirik ilmiah sebagaimana banyak dilakukan misalnya oleh Dr. Rizaldi de Boer, maupun dari perhitungan tradisional berdasar pranatamangsa yang ternyata masih banyak relevansinya dengan kondisi lokal, terutama pada petani Jawa. Kearifan lokal semacam ini di wilayah lain pastilah ada, dan sangat penting dihidupkan kembali, dicocokkan dengan perhitungan ilmiah yang berkembang saat ini. Banyak kondisi ekstrim yang sebelumnya pernah terjadi, yang memang sayangnya tidak tercatat dan terekam dengan baik. Namun ingatan kolektif tentang masa lalu yang tidak normal dengan solusinya saat itu acapkali masih tersimpan, dan harus dihargai sama pentingnya dengan studi dan penelitian masa kini.
Karena itu, sebelum melihat apakah “kondisi ekstrim cuaca dan iklim mendorong percepatan pertumbuhan populasi OPT”, yang juga sangat penting dicermati adalah bagaimana “praktik budidaya komoditas yang mengutamakan kesehatan tanaman telah diterapkan”. Ledakan beberapa jenis hama akhir-akhir banyak diantaranya yang terjadi karena ditinggalkannya prinsip-prinsip PHT, suatu dampak psikososial yang muncul dari iklim politis reformatif yang mengartikan makna kebebasan secara sepihak. Akibatnya hal-hal dasar dalam perlindungan tanaman ditinggalkan. Pilihan jenis/varietas tidak diatur dengan baik karena pilihan yang dibatasi dianggap melanggar kebebasan dan hak azasi, sementara pilihan yang disediakan pihak terkait adalah varietas atau jentaya (kultivar) yang rendah ketahanannya terhadap OPT, misalnya hibrid atau juga jenis lokal. Ini menyebabkan waktu tanam serentak sulit dilakukan karena perbedaan umur antara varietas bisa mencapai 20 atau bahkan 30% panjang musim tanam. Media tanam juga tidak diberi kesempatan memulihkan kondisi karena pola tanam bergilir tidak diterapkan.
Ketika tanaman sudah dipindahtanam, petani yang cermat pasti akan menerapkan praktik budidaya yang menjamin terjaganya usaha dari peningkatan populasi hama. Pengamatan rutin menjadi kebutuhan, sebab dengan demikian perubahan populasi pasti akan dapat dipantau. Jika terjadi gejala peningkatan insidensi OPT, tindakan yang dilakukan dapat diterapkan semenjak dini, sehingga penjagaan dapat lebih diperketat, tanpa harus mengandalkan diri pada pestisida. Namun saat ini nampaknya prinsip dasar PHT ini mulai ditinggalkan, karena laporan peningkatan seringkali disampaikan sesudah kerusakan cukup tinggi, yang boleh jadi baru dilaporkan karena penggunaan pestisida yang dilakukan tanpa perhitungan Ambang Ekonomi atau Ambang Kendali ternyata gagal. Praktik yang demikian ini semakin banyak terjadi, karena pengetahuan dan pemahaman tentang cara-cara proteksi tanaman berdasar PHT pada sebagian petani yang pernah mengikuti SLPHT tidak terjaga dengan baik. Besar kemungkinan apa yang pernah didapat dari SLPHT sudah dilupakan. Program penyuluhan dan pelatihan yang ada saat ini juga terasa tidak mengandung ruh yang mengarah ke keberlanjutan usaha. Beruntunglah sedikit kelompok tani yang, baik dengan kesadaran sendiri maupun karena didampingi pembina yang bertanggungjawab, dapat tetap menerapkan pengetahuan PHTnya secara konsisten, bahkan melakukan inovasi yang mampu dipergunakan untuk mengantisipasi kondisi ekstrim.
Peristiwa penyimpangan, perubahan, ekstrimitas kondisi yang tidak dapat dikendalikan manusia memang benar sedang terjadi, ini tidak dapat dipungkiri. Bukti-bukti tentang naiknya suhu global, meningkatnya insidensi dan aksidensi yang merugikan oleh perubahan kondisi tersebut, telah banyak dijumpai dan dialami. Namun sebelum kita mengambil kesimpulan dengan mengatakan bahwa kondisi alam yang bertanggungjawab dan bukan manusianya, sangat perlu kita berpikir tentang apa sebenarnya yang telah kita lakukan dalam rangka menyelamatkan usaha tani dan pengadaan produksi pertanian kita. Alam tidak akan memberikan argumentasi apabila kita jadikan tertuduh, sehingga manusianya sendirilah yang harus mencari strategi dan solusi terhadap apa yang dilakukan oleh atau apa yang terjadi di alam dan mempengaruhi usaha manusia. Mencermati satu demi satu interaksi antara komponen iklim dan sifat biologi dan perilaku OPT dapat saja kita lakukan, tetapi lebih dahulu perlu kita pastikan, pengaruh apa yang dialami oleh pertanaman. Baru kemudian pengaruh tersebut dirinci, termasuk yang mempengaruhi keberadaan OPT. Catatan teknis mengenai perikehidupan dan perilaku biologis OPT sudah cukup banyak kita miliki, dan jika harus kita buka dan pelajari kembali, marilah kita lakukan itu tanpa rasa segan dan enggan, apalagi bosan.

Perlindungan Tanaman
UNDANG-UNDANG No. 12 Tahun 1992 tentang SISTEM BUDIDAYA TANAMAN.,PERT PEMERINTAH No. 6 Tahun 1995 tentang PERLINDUNGAN TANAMAN.,Kepmentan 887/Kpts/OT.210/9/1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT. Tugas Provinsi, Pengamatan, identifikasi, pemetaan, pengendalian dan anlisis dampak kerugian OPT/fenomena iklim wil provinsi. Bimbingan pemantauan, pengamatan, dan peramalan OPT/fenomena iklim wil provinsi; Penyebaran informasi keadaan serangan OPT/fenomena iklim dan rekomendasi pengendaliannya di wil provinsi; Pemantauan dan pengatanan daerah yg diduga sbg sumber OPT/fenomena iklim; Penyediaan dukungan pengendalian, eradikasi tanaman dan bagian tanaman wil prov; Pemantauan, peramalan, pengendalian dan penanggulangan ekspolsi OPT/fenomena iklim wil provinsi; Pengaturan dan pelaksanaan penanggulangan wabah hama dan penyakit tanaman wil provinsi. Demikian ringkasan materi seminar, Terima kasih (sumber materi materi seminar perlindungan tanaman MPTHI Mataram)